Tag Archive for wirausaha

Kehilangan Koin Penyok

Memasuki tahun baru 2012, pasti banyak kenangan menarik sepanjang tahun 2011, baik suka maupun duka. Seorang kawan yang “pernah sukses” beternak ayam di Jawa Tengah belum lama ini bertemu saya untuk menyatakan “kapok” menjadi peternak ayam karena mobil dan rumahnya ludes gara-gara ayam.
Ia memulai usahanya dari nol  kemudian selama beberapa tahun, usaha ayam broiler berkembang pesat hingga ia dapat membeli rumah dan kendaraan. Sebuah prestasi yang membanggakan keluarga. Ketika terjadi gejolak harga, dimana selama beberapa bulan harga jual ayam di bawah biaya produksi, “cadangan devisanya” tak sanggup menutupi kerugian. Hutang ke pemasok sarana produksi makin membengkak hingga ia tak sanggup lagi melanjutkan. Ia memilih berhenti dan segera melunasi hutangnya dengan menjual rumah dan mobil. Ia kembali ke nol, bahkan minus. Setelah itu ia memutuskan untuk merintis usaha baru yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan peternakan. “Dulu saya nggak punya rumah, sekarang kembali seperti semula. Tidak apa-apa, semua harta kan titipan saja. Saya harus bangkit lagi,” katanya dengan nada bijak.
Ada pula cerita lain lagi. Seorang sahabat yang tinggal di Jakarta rumahnya kemalingan dua hari berturut-turut. Hari pertama di waktu magrib, sepeda motor lenyap dibawa maling yang menyelinap ke halaman rumah ketika satu keluarga sholat berjamaah di rumah. Malam berikutnya mobil yang diparkir di garasi yang tertutup dan terkunci, dibawa maling, entah dengan teknik apa. “Untungnya” kedua kendaraan itu full asuransi.  Meskipun prosedur asuransi sangat berbelit-belit, akhirnya ia mendapatkan klaim asuransi sesuai perjanjian. Sebuah pengalaman kehilangan yang pasti sulit dilupakan.
Bicara soal kehilangan, saya menyukai kisah tentang kehilangan koin penyok. Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan bagaimana cara memenuhi kebutuhan pokok untuk keluarganya.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, sedangkan istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanan kali inipun akan membawa keberuntungan, berupa pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Merasa penasaran, ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller bank memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, ia mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk keluarganya. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, ia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat keraguan di mata laki-laki itu, dan pengrajin mebel itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dengan hati bahagia ia segera membawanya pulang. “Pasti istriku bahagia sekali hari ini,” pikirnya.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang dengan mengantongi uang 250 dollar. “Uang ini dapat untuk membeli lemari dan beberapa keperluan lainnya. Istriku akan senang sekali,” kata lelaki itu dalam hati.
Di pintu desa dekat rumah dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. “Terima kasih Tuhan, Engkau memberikan keberuntungan yang luar biasa hari ini,” ujar lelaki itu  sambil mengamati rejeki nomplok 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Dalam satu hari, lelaki ini mengalami peristiwa dari nol kembali ke nol. Ia sadar bahwa semula ia tak memiliki apa-apa. Jika ia berpikir telah kehilangan 250 dollar, ia pasti merasa sangat sedih, tapi karena yang ia pikirkan koin penyok, perasaannya menjadi lebih ikhlas.
“Bila kita sadar bahwa kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?” kata GW Burns dalam buku The Healing Stories.
Salam sukses.***
Telah terbit buku kumpulan artikel motivasi dan refleksi “Jangan Pulang Sebelum Menang”. Dapatkan di Gramedia, atau pesan ke GitaPustaka, telp: 021.7884  1279.

MASUK DUNIA POLITIK DAN BISNIS, ANDA PERLU AHLI PIDATO

Memasuki dunia politik, syarat yang sangat penting adalah kepandaian berbicara di depan publik. Pandai berbicara saja tidak cukup, melainkan pandai berbicara dengan bahasa yang diterima audience dan dengan isi pidato yang smart.

Para politisi yang berulangkali hanya mengatakan ‘saya berjuang untuk kesejahteraan rakyat” lama-lama akan membuat pendengar bosan karena hal itu adalah ungkapan klise belaka. Diperlukan penjelasan bagaimana cara-cara berjuang untuk rakyat, bagaimana rakyat terlibat dalam mengontrol para pejabat dan politisi dan sebagainya.

Demikian juga para pebisnis, semakin tinggi level anda, semakin dituntut pandai menyampaikan hal-hal yang bijak, tegas dan jelas.

Proudly using Dynamic Headers by Nicasio WordPress Design