0816 482 7590. Ahli dan berpengalaman menyusun teks naskah pidato dan sambutan, ahlinaskahpidato@gmail.com

LAPORAN KETUA PANITIA SEMINAR NASIONAL LALU LINTAS PERDAGANGAN TERNAK BABI

LAPORAN KETUA PANITIA

Selamat pagi Ibu dan Bapak yang saya hormati. Pada kesempatan yang indah ini marilah kita panjatkan syukur dan pujian ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih karena atas rahmat karunia Nya kita semua bisa berkumpul di Hotel Sahid Raya, Solo untuk seminar dan berdiskusi masalah Lalu-lintas Perdagangan Ternak Babi, Masalah dan Solusinya.

Pada kesempatan ini kami sampaikan selamat datang dan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Direktorat Jenderal Peternakan atau yang mewakilinya
2. Kepala Pusat Karantina Hewan, Badan Karantina Pertanian, Departemen Pertanian atau yang mewakilinya
3. Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jawa Tengah
4. Para Kepala Dinas Peternakan-Perikanan dari Kotamadya Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kab. Boyolali, Kab Sukoharjo, Kab. Sragen, Kab.Klaten, Kab. Wonogiri
5. Para Dekan Fakultas Peternakan
6. Rekan-rekan dari Asosiasi Binasatwa Mandiri
7. Rekan-rekan dari ISPI, ASOHI, PDHI
8. Para dosen dari berbagai perguruan tinggi serta para pengusaha ternak babi serta para pengusaha sarana produksi peternakan dan kesehatan hewan
9. Hadirin sekalian yang belum kami sebutkan di atas

Seminar atau diskusi ini diselenggarakan karena masalah lalu lintas perdagangan ternak babi selalu mencuat tiap tahun dan belum dapat diatasi. Seminar diikuti oleh instansi terkait, para pengusaha ternak, para pengusaha sarana produksi peternakan dan kesehatan ternak babi, dekan fakultas peternakan dari berbagai perguruan tinggi, para dosen, rekan- rekan dari ISPI, ASOHI dan PDHI serta para calon peternak.

Bahwa pada dasarnya, di satu sisi peternakan babi sangat menjanjikan karena jika dibandingkan dengan ternak lain, babi paling produktif dan paling cepat besar sehingga dari berat lahir yang hanya sekitar 2 kg dapat meningkat menjadi 100 kg pada usia hanya 4 – 6 bulan.

Akan tetapi di sisi lain, peternakan ini sangat spesifik, karena hanya dinikmati oleh kalangan terbatas, sehingga wilayah pemasarannya pun juga terbatas.
Untuk wilayalh Jawa, misalnya pemasaran terbesar hanya ke Jakarta dan Surabaya, sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan berbagai kota besar serta kebutuhan konsumen lokal di sekitar daerah peternakan babi. Di Pulau Jawa, populasi ternak babi mencapai 5 (lima ) juta ekor, yang jika diperhitungkan cukup untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Pulau Jawa. Jika kondisi ini bertahan, maka harga jual babi hidup diharapkan akan stabil. Akan tetapi, seringkali pada saat harga jual tinggi, babi dari daerah lain masuk ke Jawa sehingga harga babi di Jawa menjadi anjlok. Hal ini tentu saja tidak diinginkan khususnya oleh para pengusaha peternakan babi di Jawa.

Setiap tahun hal ini selalu menjadi masalah bagi para pelaksana bisnis peternakan babi di Pulau Jawa yang mungkin juga terjadi di wilayah lain di Indonesia. Untuk itu, kami mengharap bantuan dari Ibu dan Bapak Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jawa Tengah, Direktorat Budidaya Ternak non ruminansia dan Pusat Karantina Hewan untuk mengatasi masalah ini. Mungkin ada peraturan atau aturan main tertentu dalam lalu lintas perdagangan ternak khususnya ternak babi yang belum kami ketahui.

Masalah lain yang perlu di atasi adalah perbibitan, karena angka depresi inbreeding pada babi di Indonesia sudah cukup menghawatirkan yang dikhawatirkan akan mengakibatkan performance ternak babi menjadi kurang baik. Dari tahun ke tahun tetua babi yang ada di Indonesia hanya bersaling silang antara babi yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian peternak memang sudah berinisiatif impor semen beku dari berbagai Negara (Amerika, kanada, Australia, new Zealand) dan Negara-negara lain di dunia. Akan tetapi prosedur yang seharusnya kami lalui tidak sepenuhnya kami ketahui sehingga kami merasa untuk impor semen beku sangat sulit. Sebagai akibatnya, kadang-kadang ditempuh jalan pintas untuk impor semen yang mungkin belum sepenuhnya benar dari segi kesehatan atau pun penyakit bawaan.

Untuk mengatasi masalah kualitas babi, pada kesempatan ini kami menghadirkan pembicara dari Inggris, yang kebetulan adalah pemilik perusahaan penanganan semen babi. Diharapkan melalui acara ini dapat ditemukan cara yang mudah untuk meningkatkan kualitas ternak babi di Indonesia. Jika ada, mungkin bekerja sama dengan AMI dan pemerintah daerah, salah satu peternakan di sini dapat menjadi pusat distribusi semen beku babi. Jika ada tanggapan positip, rencana akan diadakan workshop bagaimana melaksanakan kawin suntik pada babi agar hasilnya optimal. Para peserta yang berminat harap mendaftar di panitia.

Masalah- masalah lain masih banyak yang harus diatasi misalnya standarisasi kualitas daging, bagaimana upaya untuk mempermudah pengiriman ternak apakah mungkin dengan pengiriman karkas ke kota besar supaya kerugian akibat matinya babi sepanjang transportasi dapat diatasi..

Untuk membantu mengatasi berbagai masalah pada peternakan babi, Assosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) sesuai dengan misinya menjadi jembatan antara pemerintah, perguruan tinggi dan peternak serta pengusaha sarana produksi dan kesehatan ternak selalu berusaha mencarikan solusi yang paling tepat. Salah satu caranya adalah menghubungi para penentu kebijakan yang berhubungan dengan masalah yang ada.

Dalam seminar kali ini AMI bekerja sama Gita Organizer, sebuah event organizer yang berpengalaman dalam menyelenggarakan seminar dan pelatihan peternakan dan kesehatan hewan dan didukung oleh PT Kalbe Farma divisi Animal Health, PT Romindo Primavetcom, PT Pfizer Indonesia, PT Biotek Sarana Industri, British Pig Association. AMI juga mendapat dukungan dari majalah INFOVET, Trobos dan Poultry Indonesia serta Gita Pustaka, G-Multimedia, dan Satwa Kesayangan. Diharapkan dengan dukungan dari media lingkup peternakan dan kesehatan hewan ini, berbagai masalah yang diangkat dalam seminar ini mendapat perhatian dari masyarakat termasuk pemerintah.

Seminar dan diskusi ini tidak akan terselenggara tanpa dukungan dari Bapak Hadi Santoso Ketua ASOHI Jawa Tengah dan juga Kepala Cabang Paeco Agung Jateng, Bapak Robby dari Bina Satwa Mandiri, Bapak Suharto dari Lembah Hijau, Bapak Agus dari ISPI, Bapak Toto (Romindo), Bapak Mulyawan Sapardi, Bapak Dr.Pollung Siagian dari IPB yang juga dewan pakar AMI, Bapak Enggano Swara dari Kedutaan Besar Inggris, serta rekan-rekan lain dari Solo dan sekitarnya yang belum kami sebutkan. Terima kasih sekali atas bantuannya.

Kami berharap hasil seminar ini kita tindak lanjuti dengan langkah kongkrit sehingga masalah yang kita hadapi bersama bisa dicari solusinya.

Semoga seminar dan diskusi ini bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan peternakan kita, bukan hanya babi tetapi juga akan memberi semangat kepada peternakan lain. Kami juga mohon maaf jika pada penyelenggaraan ini ada hal-hal yang kurang menyenangkan. Amin

Solo, 27 Juni 2007
Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI)
Ketua Umum

Dr.Ir. Rachmawati Siswadi M.Agr.Sc

disusun oleh Bambang Suharno

One comment

  1. Makna
    I am very happy to be aware of this blog post . Great walk-through. I appreciate this post. Makna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly using Dynamic Headers by Nicasio WordPress Design