0816 482 7590. Ahli dan berpengalaman menyusun teks naskah pidato dan sambutan, ahlinaskahpidato@gmail.com

CARA MENJADI PEMBICARA YANG BAIK

Teknologi informasi sekarang sangat berkembang pesat. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik sangat dibutuhkan karena begitu banyak informasi yang didapatkan dan harus disampaikan kepada orang lain. Seorang pembicara publik sangat berperan dalam hal ini. Selama ini, seorang presenter atau MC ditafsirkan sebagai seorang pembicara umum (public speaker). Namun, sebenarnya seorang public speaker adalah setiap orang yang berbicara di depan umum secara efektif dan efisien. Tujuan orang berbicara di depan umum adalah agar orang lain memiliki ide seperti yang dimiliki pembicara. Dengan kata lain, tercipta persamaan dalam ide. Pembicara dan audiens sama-sama memiliki ide yang sama.

            Pada kenyataannya, berbicara di depan umum menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kebanyakan orang. Dalam The Book of List  di antaranya adalah daftar tentang rasa takut manusia. Apakah kematian merupakan ketakutan yang paling besar? Bukan. Itu hanya menempati urutan keenam sejajar dengan penyakit. Lalu, apa rasa takut yang paling buruk? Meskipun tindakan berbicara yang kita lakukan setiap hari telah dipelajari sejak awal masa kanak-kanak, berbicara di depan pendengar, banyak maupun sedikit, ternyata merupakan hal yang paling ditakuti.
            Kemudian bagaimana cara mengatasi rasa takut pada saat berbicara di depan umum? Menurut para ahli psikologi, rasa takut adalah perasaan negatif yang timbul akibat teridentifikasinya sebuah stimulus (misalnya bahaya). Rasa takut tidak bisa dihindari, tapi bisa dikelola sehingga tidak memberikan dampak yang destruktif bagi orang yang memiliki rasa takut tersebut. Ketika rasa takut atau gugup itu datang seperti ada kupu-kupu terbang dalam perut kita, detak jantung menjadi cepat dan tak teratur, suara menjadi terbata-bata, dan keringat dingin. Temuan sebuah riset mengungkapkan 11 alasan ketakutan yang sering orang alami saat mereka tampil dan berbicara di depan umum sebagai public speaker, yaitu membuat kesalahan yang memalukan; merusak karir atau reputasi; lupa materi yang akan disampaikan; penyampaian datar atau membosankan; terlihat gugup; ditatap audiens; tak mampu menjawab pertanyaan; tidak siap; diabaikan; ditertawakan; ada yang tertidur di antara audiens.
             Kita harus mengeluarkan rasa takut itu dengan cara dengan mengatur napas.  Ambillah nafas berkali-kali dengan tenang, maka gugup akan bisa kita kendalikan. Kemudian menerbangkan semua kupu-kupu yang ada dalam perut kita dalam formasi yang terencana, yaitu ketahui subjek kita (dengan kata lain, “persiapkan”); yakini subjek kita; dan berlatih, berlatih, berlatih.
              Pengetahuan tentang subjek yang akan kita bicarakan akan mengalahkan hantu rasa cemas itu. Kalau kita telah mempersiapkan diri, 95% rasa takut berbicara di depan orang banyak akan hilang. Setelah persiapan, untuk menghilangkan rasa takut berbicara di depan orang banyak adalah kita harus yakin dengan subjek yang kita ambil. John Davies, salah satu pelatih pidato yang paling berhasil di Amerika Serikat, menyarankan agar jangan pernah memberikan pidato tentang subjek yang tidak kita yakini. Persiapan yang matang ditambah keyakinan tentang topik akan menghasilkan keuntungan tertentu: gerak tangan menjadi lebih alamiah, lebih otomatis; tubuh menjadi lebih santai, mulut tidak kering, suara lebih lancar, dan kontak mata menjadi lebih langsung. Setelah persiapan dan keyakinan, kita harus berlatih. Kata lain untuk berlatih adalah “mengulang-ulang”. Berlatih membantu keyakinan diri dan kepercayaan juga mengurangi rasa takut. Latihan tidak selalu menjadikan sempurna tetapi pasti menjadikan kita lebih baik.
              Namun rasa takut atau gugup dalam public speaking itu ternyata penting. Tantowi Yahya dalam Tantowi Yahya Public Speaking School mengatakan bahwa rasa takut atau gugup itu penting agar kita mempersiapkan diri kita sehingga kita tidak menjadi overpede karena orang yang tidak ada takutnya itu bicaranya ngelantur atau merendahkan orang lain.
            Setelah rasa takut teratasi, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita mengkomunikasikan pesan kepada pendengar. Perlu kita ketahui bahwa enam puluh persen komunikasi kita merupakan komunikasi nonverbal. Itu berarti bahwa seluruh dinamika badan kita berkomunikasi lebih banyak daripada kata-kata yang kita ucapkan. Gerakan tubuh ini disebut bahasa tubuh. Bahasa tubuh dalam konteks pembicara terdiri dari pakaian; gerakan tubuh atau postur; kontak mata; gerakan tangan; dan ekspresi muka.
              Ketika kitapertama kali muncul dalam pandangan seseorang, ia akan langsung membuat penilaian terhadap diri kita. Dengan cepat mereka akan menyimpulkan siapa dan dari mana kita. Hal yang sama juga terjadi ketika kita pertama kali muncul di depan audiens. Cara berpakaian kita akan menunjukkan apakah kita satu dari mereka atau dari kelompok lain. Penyimpulan seperti ini dalam bahasa Inggris disebut “Tribal Recognition”[6]. Berpakaianlah sesuai dengan jenis audiens dan acara dimana kita tampil. Jangan berpakaian berlebihan sehingga audiens bukannya memperhatikan apa yang kita katakan tapi apa yang kita kenakan.
            Elemen kedua yang akan diperhatikan audiens adalah postur tubuh dan bagaimana kita menggerakkannya. Ketika berada diatas panggung, postur dan gerakan tubuh kita memberikan gambaran tentang sikap dan perasaan kita terhapap forum yang kita hadapi. Kepala yang selalu menunduk dan melihat keatas menunjukkan tidak percaya diri. Kepala yang menghadap ke depan menandakan keyakinan yang penuh. Pada saat muncul untuk pertama kali, perhatikan cara berjalan. Pastikan kedua kaki lurus pada waktu melangkah. Jangan berlenggang dan jangan pula terlalu tegap. Berjalanlah dengan tenang namun penuh kewaspadaan. Tegakkan kepala, pandanglah audiens dengan mata yang antusias dan senyum. Ketika berbicara, pastikan tubuh kita mempunyai ruang yang cukup bernapas. Usahakan setiap gerakan bermakna. Gerakan-gerakan yang baik dan sesuai akan membuat pembicaraan lebih hidup.
              Kontak mata dengan audiens adalah faktor penting yang membuat acara berlangsung dua arah. Kemampuan menciptakan kontak mata dengan audiens pada saat berbicara adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang pembicara. Begitu banyak kita lihat pembicara yang terus berbicara tanpa melihat audiens yang ada di hadapannya. Komunikasi yang terjalin satu arah akan membuat penampilan kita kurang hidup dan cepat menimbulkan kebosanan. Kontak mata adalah alat kontrol yang ampuh untuk mengetahui apakah anda pembicara yang membosankan atau menyenangkan.
            Sebagaimana gerakan tubuh, gerakan tangan juga dapat membantu kita memberikan pengertian yang lebih jelas terhadap apa yang ingin diungkapkan. Banyak orang yang mempunyai kebiasaan yang buruk dengan tangan apabila sedang menjadi perhatian, seperti menggaruk-garukkan tangan atau kepala, memegang-megang cincin di jari, memegang hidung dan jenggot. Kita bisa menghilangkannnya dengan latihan. Ajak seseorang untuk menemani kita pada saat latihan. Minta ia berteriak apabila kita melakukan kebiasaan buruk tersebut. Lakukan berulang-ulang.
            Ekspresi wajah yang paling mudah dilakukan adalah senyum. Senyum yang tulus dan tidak berlebihan akan membuat kita terlihat ramah dan senang berada diantara audiens. Senyum dapat pula menciptakan suasana rileks dan bersahabat di antara audiens. Senyum yang baik adalah senyum yang wajar dan dikeluarkan pada saat yang tepat. Tersenyum dan tertawa adalah dua hal yang berbeda.
Selain itu, agar dapat merebut perhatian audiens, kita bisa menggunakan humor. Kemampuan untuk membuat mereka tersenyum kemudian memberikan applause meriah kepada kita akan sangat membantu untuk mengurangi ketegangan dan kebosanan di antara mereka. Namun ada “pantangan” ketika menggunakan humor, yaitu jangan mempermalukan orang lain; jangan menggunakan lelucon yang kesukuan dan rasial; jangan menggunakan dialek; jangan membuat lelucon tentang agama; dan hindari bahasa yang kasar dan tidak pantas.
            Menjadi pembicara umum yang baik tidaklah sesulit yang dibayangkan. Seperti suatu ungkapan, “kalau mau sukses, belajar dengan orang sukses, bukan dengan orang gagal”, kita pun tidak hanya belajar secara teori saja, tetapi juga belajar dari para praktisi di dalam negeri maupun di luar negeri. Tukul Arwana merupakan salah satu contoh di tanah air. Tukul mempunyai banyak kekurangan dalam hal berbicara di depan umum, tetapi dia berhasil menjadi pembawa acara yang sukses. Mungkin yang penting kita ingat bahwa inti dari public speaking adalah memberikan sesuatu yang bernilai kepada audiens. Tukul selalu menutup 90 menit acaranya dengan menyatakan tujuan utama acara “Bukan Empat Mata” adalah menghibur, membuat orang tertawa. Saat audiens seperti paduan suara menyambung kalimat Tukul “kembali ke laaaappp???? . . . mereka menyambung “topppppp!!!!!!! yang sekarang ini sering ditiru orang, berarti Tukul telah mencapai tujuannya.
             Contoh lainnya, di Amerika Serikat, acara pengukuhan Barrack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat diwarnai dengan keterampilan public speaking kelas dunia antara Barrack Obama dan Hillary Clinton. Di sini pun kita belajar bahwa untuk bisa menjadi seorang public speaker yang baik, kita harus memiliki intellectual capacity yang kokoh dan wawasan berpikir yang ekspansif. Kita juga harus memperhatikan makna ritme bicara, kekuatan intonasi, dan kejernihan artikulasi. Selain itu,  penguasaan panggung yang sempurna merupakan sebuah elemen amat penting untuk menghadirkan public speaking yang impresif.
         Setelah melihat uraian di atas, sebenarnya mengapa kita harus menguasai public speaking? Ada tujuh alasan,  yaitu 18.000 kata sehari terucap dan 85% dari kata yang dikeluarkan merupakan kata-kata yang akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan hidup kita; berbicara akan menentukan kesempatan kita untuk meraih simpati,  mendapatkan teman, relasi, peluang bisnis, hingga menemukan pasangan hidup sehingga berbicara merupakan kunci sukses  kehidupan; tuntutan jabatan atau kedudukan untuk berbicara di depan umum; kita berbicara setiap hari di mana saja sehingga public speaking ada di setiap lini kehidupan manusia; membuat kita terkenal karena public speaking merupakan cara paling mudah, aman, hemat dan efektif untuk semakin di kenal oleh atasan maupun lingkungan; kekuatan tiga V, yaitu kekuatan Verbal, Vokal dan Visual yang merupakan tiga elemen penting berbicara; nilai tambah diri saat berada di lingkungan kerja dan di mana saja karena dengan public speaking kita mampu mengatakan apa yang ingin dikatakan dengan baik.
Kesimpulan
             Sebagian banyak orang menafsirkan seorang public speaker sama dengan presenter atau MC, tetapi tidak. Pembicara umum atau public speaker ialah setiap orang yang berbicara di depan umum secara efektif dan efisien.
            Pada kenyataannya, berbicara di depan umum menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kebanyakan orang. Kita harus mengeluarkan rasa takut itu dengan persiapan, keyakinan, dan latihan berulang-ulang.
            Berbicara di depan umum ternyata sangat membutuhkan bahasa tubuh, seperti pakaian; gerakan tubuh atau postur; kontak mata; gerakan tangan; dan ekspresi muka. Kita harus memperhatikan masing-masing aspek agar kita mendapat perhatian dari audiens. Selain itu, kita juga bisa menggunakan humor dalam berbicara di depan umum. Namun humor kita tidak boleh mempermalukan orang lain; tidak menggunakan lelucon yang kesukuan dan rasial; tidak menggunakan dialek; tidak membuat lelucon tentang agama; dan menghindari bahasa yang kasar dan tidak pantas.
            Selain secara teori, berbicara di depan umum juga dapat dipelajari dari para praktisi di dalam maupun luar negeri, seperti Tukul Arwana yang membawakan acara Bukan Empat Mata, juga Barrack Obama dan Hillary Clinton yang sangat luar biasa.
            Ada beberapa alasan kita harus menguasai public speaking, yaitu kita setiap hari berbicara dan 85% dari yang kita ucapkan menentukan kesuksesan hidup kita; merupakan nilai tambah bagi kita dalam bekerja, kita bisa dengan cepat dikenal oleh lingkungan dan atasan. Tidak hanya itu, public speaking membuat kita mampu mengatakan apa yang ingin dikatakan sehingga pendengar pun mengerti bagaimana kita ingin mereka paham.
sumber: http://viviandriyani.blogspot.com/2010/06/cara-cara-menjadi-pembicara-publik-yang.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly using Dynamic Headers by Nicasio WordPress Design